Menjemput Lailatul Qadr di Masjidil Haram

Kategori : INFO UMROH, ARTIKEL, Ditulis pada : 13 November 2025, 10:50:42

? Menjemput Lailatul Qadr di Masjidil Haram

 

Ada sesuatu yang istimewa dari datangnya Ramadhan, dari mulai suasana masjid yang lebih ramai atau lantunan tilawah yang menggema di setiap malam, ditambah ada rasa yang sulit dijelaskan: seperti tenang, haru, rasa syukur, sekaligus rindu. Bagi sebagian orang, bulan suci ini menjadi waktu untuk memperbaiki diri, bagi yang lain ini menjadi kesempatan untuk menapak ke Tanah Suci, menghabiskan malam-malamnya di bawah langit Mekkah yang penuh doa. Di sanalah, di antara cahaya lampu Masjidil Haram dan suara lembut orang-orang berzikir, hati-hati yang rindu itu berkumpul menanti satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatul Qadr.

 

Suasana di Masjidil Haram pada sepuluh malam terakhir Ramadhan berbeda dari hari-hari biasa. Ribuan jamaah datang dari berbagai negara, dengan wajah-wajah yang teduh dan mata yang basah oleh haru. Suara doa dan lantunan ayat suci menggema tanpa henti, menciptakan harmoni yang hanya bisa dirasakan, bukan dijelaskan. Tak ada hiruk pikuk dunia di sini, hanya ada kesunyian yang indah.. kesunyian yang dipenuhi doa dan harapan agar Allah perkenankan kita menemukan malam penuh kemuliaan itu.

 

Lailatul Qadr bukan sekadar malam istimewa. Allah sendiri menyebutnya lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Di malam itu, setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, setiap doa diangkat, dan setiap hati yang tulus berpeluang diampuni. Tidak heran, banyak jamaah yang rela begadang, beritikaf, dan memperbanyak ibadah hanya untuk menjemput satu malam yang nilainya lebih dari seumur hidup.

 

Beritikaf di Masjidil Haram menjadi pengalaman spiritual yang tak terlupakan. Bayangkan, duduk bersimpuh di depan Ka’bah, membaca Al-Qur’an sambil mendengar lantunan tak henti dari jamaah di sekelilingmu. Udara malam terasa hangat, tapi hati justru sejuk. Setiap sujud terasa lebih lama, setiap istighfar lebih dalam. Di antara doa-doa itu, ada rasa kecil — rasa bahwa kita hanyalah hamba yang berharap diterima oleh Sang Maha Pengasih.

 

Bagi yang pernah merasakan Ramadhan di Mekkah, mereka tahu bahwa setiap malam di sana memiliki kehangatannya dan ketenangannya sendiri. Tapi sepuluh malam terakhir sungguh luar biasa. Masjidil Haram dipenuhi jamaah yang enggan meninggalkan tempat shalat. Banyak yang membawa mushaf kecil, banyak pula yang diam dalam dzikir. Inilah saat-saat di mana doa terasa paling dekat dengan langit.

 

Menjemput Lailatul Qadr di Masjidil Haram bukan hanya tentang pahala, tapi tentang rasa kembali. Kembali pada fitrah, kembali pada harapan yang mungkin sempat hilang, kembali menyadari betapa kecilnya kita di hadapan kasih sayang Allah. Di tengah ribuan orang, kita belajar bahwa keikhlasan tidak butuh tempat khusus tapi di Tanah Suci, semua itu terasa lebih nyata.

 

Tak sedikit yang menjadikan umrah di bulan Ramadhan sebagai impian hidup. Rasulullah ﷺ bersabda, “Umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka tak heran, program itikaf full Ramadhan di Mekkah selalu dinanti. Bukan sekadar perjalanan, tapi pertemuan antara rindu, ibadah, dan doa yang ingin disampaikan langsung di rumah Allah.

 

Di bawah langit Mekkah yang tak pernah sepi dari doa, setiap hati memohon hal yang sama. semoga Allah beri kesempatan menjemput malam kemuliaan itu, walau hanya sekali seumur hidup. Karena sesungguhnya, mereka yang pernah merasakannya tahu, Lailatul Qadr bukan sekadar malam, ia adalah perjumpaan paling indah antara hamba dan Tuhannya.

 

Mari wujudkan memaksimalkan malam2 terakhir Ramadhan dan meraih keberkahan yang berlipat ketika lailatul qadr di Tanah Suci Bersama Azka Mandiri Internasional -sahabat perjalanan ibadahmu

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id