Belajar Menjadi Tamu Allah: Tips Menjaga Adab dan Hati di Mekkah
Belajar Menjadi Tamu Allah: Tips Menjaga Adab dan Hati di Mekkah
image by: iStockphoto
Makna Tamu Allah
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika kita membayangkan berada di Mekkah. Udara panasnya yang khas, lautan manusia berpakaian putih yang bergerak serempak mengelilingi Ka’bah, dan lantunan doa yang menggema di antara bangunan tua kota suci itu — semuanya terasa begitu hidup, seolah memanggil hati setiap muslim untuk suatu hari nanti datang berkunjung.
Banyak yang bilang, begitu pertama kali melihat Ka’bah tuh semua rasa bercampur jadi satu: haru, takjub, dan tenang. Mungkin karena di sanalah semua doa dan air mata bertemu. Kita yang selama ini hanya berdoa dari jauh, membayangkan bagaimana rasanya menatap rumah Allah secara langsung, pasti bisa sedikit memahami perasaan itu. Seolah-olah semua perjalanan hidup yang melelahkan ini akhirnya punya tujuan.
Dari situ kitab isa melihat bahwa makna menjadi tamu Allah terasa begitu dalam. Bukan hanya tentang mampu berangkat atau punya kesempatan, tapi tentang diundang oleh Allah sendiri untuk datang ke rumah-Nya. Hal itu menjadi sebuah kehormatan yang tidak semua orang dapatkan di waktu yang sama. Maka dari itu, membayangkan diri berada di sana saja sudah membuat hati terasa kecil. Kita belajar bahwa datang ke Mekkah bukan sekadar soal perjalanan fisik, tapi juga perjalanan hati.
Menjadi tamu Allah berarti datang dengan adab dan kerendahan hati. Sebagaimana kita menghormati seseorang yang kita datangi di dunia, maka lebih pantas lagi bagi kita untuk menjaga tutur, perilaku, dan niat saat datang ke rumah Allah. Bahkan dalam hal-hal kecil — seperti menahan suara agar tidak keras, tidak terburu-buru saat tawaf, atau sekadar menjaga pandangan dari hal yang tak perlu, semua itu menjadi wujud penghormatan kita sebagai tamu.
Dan meski sebagian dari kita mungkin belum punya kesempatan untuk ke sana, bukan berarti kita tak bisa belajar mempersiapkan hati sejak sekarang. Karena hakikatnya, menjadi tamu Allah bukan dimulai dari langkah kaki menuju Mekkah, tapi dari langkah hati yang belajar untuk lebih tenang, sabar, dan tulus dalam beribadah.
Menjaga Adab sebagai Tamu Allah
Ketika kita diundang ke rumah seseorang yang kita hormati, tentu kita akan datang dengan sikap sopan, pakaian rapi, dan tutur kata yang baik. Begitu pula saat kita menjadi tamu Allah di tanah suci. Bedanya, kali ini yang menyambut bukan manusia, melainkan Tuhan yang Maha Agung. Maka sudah sepantasnya kita datang dengan hati yang bersih dan perilaku yang penuh hormat.
Menjaga adab di Mekkah bukan sekadar aturan, tapi bentuk penghormatan terhadap tempat yang dimuliakan. Di sana, segala sesuatu terasa lebih berarti, dimulai dari ucapan, langkah, bahkan pandangan mata. Kita belajar untuk menahan suara agar tidak keras, menghormati orang yang lebih tua, tidak mendorong saat tawaf, dan bersabar ketika berdesakan di tempat suci. Hal-hal yang mungkin terasa kecil di tempat lain, di Mekkah justru menjadi cermin seberapa dalam rasa hormat kita kepada Allah.
Kadang, tanpa sadar, kita bisa mudah mengeluh panas, capek, antri panjang, atau makanan yang tak sesuai selera. Tapi di situlah ujian sejati seorang tamu Allah. Di hadapan Ka’bah, seharusnya bukan keluhan yang keluar, tapi dzikir dan syukur. Karena setiap langkah yang melelahkan, setiap tetes keringat, semuanya menjadi bagian dari ibadah yang bernilai di sisi-Nya.
Menjaga adab juga berarti menjaga hati dari kesombongan. Di antara jutaan jamaah, kita bukan siapa-siapa. Semua memakai pakaian yang sama, berdiri sejajar, tanpa tanda pangkat atau jabatan. Tidak ada kursi istimewa, tidak ada nama besar, disana yang ada hanya manusia dan Tuhannya. Di situlah kita belajar arti kerendahan hati yang sesungguhnya. Bahwa yang membuat seseorang mulia di hadapan Allah bukan karena kedudukan, tapi karena kesungguhan ibadah dan ketulusan niatnya.
Maka, saat kita membayangkan menjadi tamu Allah, bayangkan juga bagaimana seharusnya kita bersikap: datang dengan hati yang tunduk, menjaga ucapan agar tetap baik, dan menebarkan ketenangan di sekeliling. Karena sejatinya, orang yang bisa menjaga adab di tanah suci bukan hanya sedang beribadah, tapi sedang menghormati panggilan Allah dengan segenap jiwa dan rasa.
Jadi intinya, ibadah itu bukan mencari kenyamanan, jangan kita terlalu sibuk mencari kenyamanan fisik tapi tidak dengan hati. Ibadah di Mekkah itu kita belajar kesabaran, rasa Syukur, serta menjaga hati dan lisan, serta harus dengan hati yang lapang mengucap “labbaikallahumma labbaik”.
Wujudkan usaha dalam memenuhi undangan Allah Bersama Azka Mandiri Internasional
-sahabat perjalanan ibadahmu
