Jejak Haji di Tanah Suci: Bukan Sekedar Rukun Islam kelima

Kategori : ARTIKEL, INFO HAJI, Ditulis pada : 30 Oktober 2025, 21:48:38

Jejak Haji di Tanah Suci: Bukan Sekedar Rukun Islam kelima

 

Haji bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan perjalanan hati dan jiwa. Setiap umat Islam tentu memendam kerinduan yang sama, yaitu menapakkan kaki di Tanah Suci, menyebut nama Allah di depan Ka’bah, dan merasakan kedamaian yang tak tergantikan. Namun, tidak semua orang langsung mendapat kesempatan itu. Hanya mereka yang benar-benar dipanggil oleh Allah SWT yang akhirnya sampai. Karena itu, haji bukan semata urusan finansial, tapi juga kesiapan diri baik fisik, mental, maupun spiritual.

Kedudukan haji dalam Islam begitu istimewa. Ia menjadi rukun Islam kelima yang menyempurnakan keislaman seseorang. Setiap detik dalam perjalanannya mengandung makna ibadah yang dalam. Haji mengajarkan bahwa untuk bisa dekat kepada Allah, manusia harus melepaskan semua atribut duniawi status, harta, dan kebanggaan diri hingga hanya tersisa ketundukan dan keikhlasan semata. Momen ini sering kali menjadi titik balik, tempat banyak hati kembali menemukan makna sejati dari kehidupan.

Dalam pelaksanaannya, setiap ritual haji menyimpan pesan simbolik. Thawaf mengajarkan manusia untuk senantiasa menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, sa’i mengingatkan akan perjuangan dan keteguhan hati seorang ibu dalam menghadapi kesulitan, dan wukuf di Arafah menggambarkan persamaan seluruh manusia di hadapan Sang Pencipta. Semua jamaah berdiri dalam balutan ihram yang sama tanpa pangkat, tanpa perbedaan seolah dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan makna keadilan dan kesetaraan yang sesungguhnya.

Lebih dari itu, haji juga menjadi perjalanan spiritual menuju kesabaran dan pengorbanan. Di tengah jutaan orang, kita belajar menahan diri, menundukkan ego, dan mempraktikkan keikhlasan dalam setiap langkah. Di sana tak ada yang mudah; panasnya cuaca, padatnya kerumunan, hingga ujian fisik yang berat namun semua itu menjadi bagian dari proses penyucian jiwa, Sebab setiap tetes keringat di Tanah Suci adalah saksi cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Dan pada akhirnya, haji adalah perjalanan pulang. Bukan hanya pulang dari tanah haram ke tanah air, tapi pulang kepada fitrah. Kembali menjadi manusia yang bersih, rendah hati, dan penuh syukur. Karena haji sejatinya bukan hanya tentang sampai ke Makkah, tapi bagaimana setelahnya seseorang bisa membawa nilai-nilai itu ke dalam kehidupannya menjadi pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan tunduk kepada Allah SWT.

Nilai-Nilai Yang Ditanamkan Dalam Haji

  • Kesabaran dan Ketakwaan
  • Keihklasan
  • Kerendahan hati
  • Perenungan dan Introspeksi
  • Simbol Persatuam Islam

 

Setelah Pulang Haji, Apa Sebenarnya Yang Kita Bawa?

Setiap orang pulang dari Tanah Suci dengan cerita yang berbeda. Ada yang membawa air mata haru, ada yang membawa ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi satu hal yang sama, tak ada jamaah yang benar-benar kembali dalam keadaan yang sama seperti saat ia berangkat. Sebab haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah, melainkan perjalanan batin yang menanamkan makna mendalam tentang kehidupan, kesabaran, dan cinta kepada Allah SWT.

Setiap muslim yang dikehendaki untuk pergi haji hendaknya mereka menjadi haji yang mabrur,kenapa? Dalam hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam disampaikan bahwa

وعَنْهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ العُمْرَة إلى العُمْرِة كَفَّارة لما بينهما والحجُّ المَبرُورُ لَيس لهُ جَزَاء إِلَّا الجَنَّةَ متفق عليه

Artinya: Dari Abu Hurairah RA pula, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan surga." (Muttafaq 'alaih).

dan dalam hadist lainnya dikatakan,

وَعَنْ عَائِشَةَ رضي الله عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ يا رَسُولَ الله نَرى الجِهَادَ أَفضَلَ العملِ أَفَلا نُجَاهِدُ ؟ فَقَالَ لَكِنْ أَفْضَلُ الجِهَادِ حَج مبرور رواه البخاري

Artinya: Dari Aisyah RA, ia berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu, apakah kita (kaum wanita) tidak baik mengikuti jihad?" Beliau lalu menjawab, "Bagi engkau semua kaum wanita, maka sebaik-baiknya jihad ialah mengerjakan haji yang mabrur." (HR Bukhari).

Menurut Imam An-Nawawi, haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri dosa atau maksiat sehingga balasannya adalah syurga. Beliau juga menambahkan bahwa haji mabrur berati haji yang diterima oleh Allah tanpa ada kesombongan atau dosa yang mengotori ibadah tersebut.

segera daftarkan diri kamu menjadi tamu allah selanjutnya dan percayakan perjalanannya sama MINAZ

sahabat perjalanan ibadahmu

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id